Tak kusangka nyanyian cinta yang sendu kembali menyapa ku kembali di pagi ini yang mendung ini, (hey apa kau juga mendengarnya??). Pagi yang cukup mendung, kurasa,,,namun gemuruhnya berpindah kedalam hatiku.,kurasa menggelegar seakan2 tak sabar kumuntahkan pada udara. Kucari-cari sang mentari yang sayup tak mau keluar dari balutan selimut awan tebalnya.,,berlindung ketakutan disana,,sinarnya telah habis, tak pandai dia menjaganya, terlalu pengecut untuk sekedar menyapa. Tak kupedulikan,,aku sudah memilih mentari baru untuk ku. Mentari yang lebih mampu memancarkan sinar lebih kuat, lebih indah, mententramkan jiwa, dan memahami kerapuhanku. Mentari yang setia jadi pelita ditengah gelapnya hatiku, bagai lilin yang menerangkan ruang hampa, meskipun tanpa udara. Ku benci malam, ku tak ingin malam,,sungguh teramat benci. Karena malam menghilangkanmu dari pandangan mataku. Ku tak suka bulan, karena bulan tak punya sinar sendiri, dia hanya pantulan dari bintang yang lain, meskipun kalian sama-sama indah kurasa. Ku tak ingin bintang, meskipun dia punya sinar sendiri, yang terlihat lebih terang dibantu malam, namun dia tak memberi kehangatan seperti mentariku. Ku tak ingin yang lain, karena semuanya tak sesempurna dirimu oh mentariku. Meskipun bagiku kau tampak jauh diatas sana, tapi memandangimu dan sesekali memberimu senyum termanisku adalah anugerah terindah bagiku. Meskipun kadang menyilaukan dan memedihkan kedua mataku. Tak apa,,sinar dan kehangatanmu cukup bisa membayar semuanya :)



